Mencintai Segara Anak

Menuju Pos 1 Sembalun, Rinjani




Oleh Husaini Bayusegara

Sore itu, senja sudah terlanjur dibakar malam, dan kami satu persatu datang membawa semangat yang tersimpan di dalam Kerilnya masing-masing. semuanya sudah siap. Hanya tinggal menunggu berangkat. Tak ada waktu yang kami sia-saiakn sebelum berangkat. Canda, tawa, kami tuangkan ke dalam adukan kopi dan sehangat persahabatan kami.  Tak lama setelah itu datanglah Tb dan seorang perempuan, yang kabarnya perempuan itu akan ikut mendaki bersama kami. Dari 8 diantara laki-laki akhirnya bertambah 1 orang lagi, ia paling cantik diantara kami. Lalu kami berkenalan, Gadis namanya. Semunya sudah siap! Jadwal Pesawat yang sesungguhnya pukul 9 pagi, namun kami putuskan berangkat dari Serang lebih awal menuju Bandara Soekarno Hatta, supaya lebih santai diperjalanan. Sebelum berjalan tak lupa kami berdoa dan mengabadikan moment. Kami bejalan kurang lebih 30 menit dari Kedai, bertujuh menuju Patung, Gadis menyusul dari kosannya yang tak jauh dari Patung, Fajar pun ikut menyusul langsung ke Bandara, yang kebetulan  rumahnya di Tangerang, tak jauh dari Bandara.

Pukul 09.15 WIB, kami sudah masuk Bandara dan terbang munju Lombok. Sampailah pukul 11.11. WITA. Disetiap perjalanan kami tak luput dari kamera, bahkan tak pernah lupa. Keluarlah kami bersembilan dari Bandar Internasinoal Lombok, sambil memikul Kerilnya masing-masing. Mobil Bakterbuka sudah terparkir menunggu kami, yang dipesan Doni sebelum berangkat. Sejujurnya ada satu hal yang tersimpan di dalam Kerilku atau tepatnya kusembunyikan dari teman-temanku. Nanti kubuka ketika di Puncaknya Rinjani, kupastikan akan selalu dingiat disepanjang perjalanan hingga turun pulang.
Kami bersembilan menaiki Bakterbuka. Ganasnya matahari yang meyulutkan semangat kami, membuat canda dan tawa semakin pecah. Tak ada jalan yang macet dan lubang di sana, aspal yang mulus dan licin serta bukit-bukit memberi salam kepada kami. Betapa bahagianya aku dan kawan-kawanku ketika berada di sana. 6 jam berlalu. Tibalah kami di pos Sembalun. Kami langsung mengurus administrasi (izin pendakian), rupanya kami sudah terlanjur dibakar senja, pos sudah tutup. Alhasil kami tak dapat bermalam di pos 1. Namun beruntunglah kami dapat Porter yang baik, memberikan tumpangan bermalam di rumahnya. 1 malam kami di Sembalun. Keesokan harinya 18 Mei 2016, pukul 08.09 WITA Aku, Bara, Doni, Tb, Alunk, Fajar, Maman, Feby, dan Gadis perempuan paling cantik diantara kami, mulai melangkah lebih dari biasanya, Dari 0 Meter di Atas Permukaan Laut (MDPL), akan sampai pada 3726 MDPL.

Matahari, setiap hari selalu membakar semangat kami. Keringat tercampur ke dalam baju yang kami kenakan, seoalah menyirami tubuh kami, bagai tanaman yang disirami petani dikala pagi, supaya segar kembali. Kami berjalan, aku diurutan kedua setelah Bara. Disepanjang perjalanan tak ada yang dapat kupikirkan, selain mengingatnya, seorang perempuan. Yaah! Seorang perempuan yang selalu kutulis ke dalam bait-bait puisiku. Selain itu hamparan bukit-bukit yang terpampang luas di mataku. Tak banyak batu-batu di perjalanan menuju pos satu, kecuali awan yang membatu dan ilalang disepanjang jalanan.

Kami melewati pos satu, beristirahatlah 15 menit. Lanjut melangkah ke pos 2. Lebih lama kami di situ, mengisi perut yang sudah kerontang. Setelah mengisi perut, kemudian tak lama hujan turun, membasahi tubuh kami. Untunglah hujan hanya sebentar, perjalanan kami lanjutkan menuju pos 3. Ini Trek yang mengejutkan 7 Tanjakan Penyesalan. Jangan sekali-kali bertanya ketika berjalan di Trek ini “Ini tanjakan yang keberapa?” sebab itu suatu hal yang menjengkelkan, siapapun yang ditanyakan maka ia akan menjawab: “Tuh sebentar lagi di atas” padahal hanya menerka, “Itu sebentar lagi di atas tanjakan ke 2, ke 3, ke 4, dan seterusnya”  Hahaha...  menyebalkan bukan? Namun di sela-sela yang menjengkelkan dan menyebalkan, Maman salah satu diantara kami selalu bisa membuat suasan menajdi  akrab dengan canda dan tawa yang mengocok-ngocok perut kami, selama diperjalanan. 7 Tanjakan Penyesalan, sejujurnya akupun engap ketika melangkahkan kaki di sini. Namun disuasana yang akrab, tak ada sedikitpun rasa ingin menyerah. Pemandangan yang indah selalu membuat rasa penasaran. Aku sangat menikmati perjalanan. Dipikiranku: “Ini belum apa-apa, sudah disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Apalagi bila sampai di atas sana, Waaah! Tak terbayang rasanya keindahannya. semangat! Semangat!”.

Tiga belas jam berlalu, Doni, Allunk dan Maman tiba lebih dulu di pos 3, Pelawangan Sembalun untuk memasang Tenda di sana. Aku dan ke 5 temanku datang lebih lambat. Di perjalanan aku berjalan selalu paling belakang, menemani Tb yang kakinya sedikit  bermasalah. Kadang ditemani Febby atau Allunk atau Maman. Kami di belakang kadang beremat, bertiga, kadang juga berdua, hanya aku dan Tb. Di sela perjalanan, di sebelah senja, ketika matahari bercumbu pada awan, aku berdua pada Febby yang sebentar lagi sampai di pos 3 tak menyia-nyiakan waktu sambil menunggu Tb di belakang. Kami berdua mengeluarkan bungkus rokok yang tersimpan di dalam tas pinggang masing-masing. Lalu merogoh korek di saku celana. Kemudian kepulan asap keluar dari mulut kami lebih banyak dari biasanya,  suasana semakin dingin. Febby membuka pembicaraan lebih dulu, tentang kedekatannya dengan seorang perempuan. Ditutup dengan kata “Jangan bilang siapa-siapa ya, cukup kita aja yang tahu tentang ini.” Kataku “Siap!” Tb belum juga tiba, kami sambung keretek lagi. Kukeluarkan Antologi Puisi “Musim Untuk Laida” karya para penyair perempuan Banten  dan “Tuhan Begitu Dekat” karya Abdul Hadi WM. Kutawarkan ia membaca puisi, diambilah “Musim Untuk Laida”  dan aku“ membaca “Tuhan Begitu Dekat” kami berdua berkomunikasi lewat puisi. Lulu kuingat sepasang kekasih, kira-kira satu minggu yang lalu kehilangan percakapannya di sebuah surat yang nyaris semua isinya berisi puisi. Kemudian kuingat pula secarik kertas yang terbelenggu di dalam Kerilku,  yang belum sempat terkirim pada seorang Puan Kelana. Di sela ingatan seorang Puan Kelana, tiba-tiba Tb datang dengan langkah 200 meter perjam dengan langkah gontai, sambil meringis memagang lututnya. Tak jarang di perjalanan ia sering jatuh atau bahkan menjatuhkan tubuhnya sendiri, menjatuhkan kesakitannya.

Pukul 21.07 kami berlima sampai di Pelawangan Sembalun Pos 3. Tiga tenda yang kami bawa sudah terpasang. Sesampainya di Pelawangan Sembalun, kami bingung tak mengenal yang mana tenda kami, sebab banyak terpasang tenda-tenda para Pendaki yang lain. Akhirnya bertemu Doni, dan kami langsung menanyakan di mana air minum. Sebab tak ada sisa air minum, semuanya habis ditenggak haus. Lalu ia pun menawarkan mie instan yang sudah masak, yang sengaja dimasak buat kami, untuk menunda lapar sebelum makan berat. Padahal disitu mereka bertiga sedang menanak nasi untuk makan malam kita. Tak lama berselang, Allunk menawarkan kopi yang masih berasap. Lalu aku mengeluarkan Keretek yang masih terbungkus rapih di dalam Keril yang tersimpan di Keresek. Kutawarkan pula Allunk dan teman-temanku yang lain, kecuali Fajar satu-satunya lelaki diantara kami yang tidak merokok.  Nasi sudah masak, ikan sarden, sosis, dan sayur kangkung tersaji di atas tresbeg, kami bersembilan mengelilingi tresbeg yang berisi makan malam. Semuanya lahap, tangan-tangan bergentayangan, meraba-raba tresbeg berisi nasi dan sayuran serta sosis dan kangkung. Hinggga tak ada sisa di atas tresbeg.

Kedua Tenda yang dibangun sudah tak bersuara lagi. Istirahat waktunya sudah dimulai. namun Aku, TB, Febby dan Gadis yang kebetulan bersama dalam satu tenda, belum tidur. Kami berempat sengaja menimati indahnya malam itu di dalam Tenda yang sengaja kami buka penutupnya. Supaya terlihat bintang-bintang yang mejulang di atas kepala. Lalu aku mengeluarkan dua buah buku Antologi Puisi dan segelas kapi. Lalu kami baca puisi bersama, bergantian. Malam itu serasa milik kami berempat. Lantunan puisi yang kami bacakan bagai suara alam yang menyatu dengan keringat yang membeku di dalam tubuh kami beremapat. Pukul 00.00 sudah tak ada lagi suara manusia yang terdengar, hanya sisa-sisa lelah yang terbakar dalam mimpi yang lelap.

Pukul 02.00, kami sudah mendengar lagi suara jejak-jejak kaki melangkah dengan mata yang lelah dan tubuh terbungkus kain tebal. Kami bersembilan dibangunkan jejak-jejak para Pendaki berjalan. Lampu kepala, air mineral, roti serta perlengkapan lainnya sudah kami siapkan sebelum melangkah lebih tinggi dari biasanya. Kami siap berjalan menujuju Puncak, 3.726 Meter di Atas Permukaan Laut.

Mulailah kami masuk dalam pintu perjalanan spiritual, dibekali semangat sajak dan puisi serta letupan semangat yang tinggi; untuk mendaki Puncak tertinggi. Tiba-tiba terdengar suara salah satu teman kami, Doni membangunkan kami yang baru mengetuk pintu alam bawah sadar. (*)

Agustus, 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DITELANJANGI OLEH WAKTU

Biodata Singkat

PEREMPUAN DAN HUJAN