Mencintai Segara Anak
Sore
itu, senja sudah terlanjur dibakar malam, dan kami satu persatu datang membawa
semangat yang tersimpan di dalam Kerilnya masing-masing. semuanya sudah siap. Hanya
tinggal menunggu berangkat. Tak ada waktu yang kami sia-saiakn sebelum
berangkat. Canda, tawa, kami tuangkan ke dalam adukan kopi dan sehangat
persahabatan kami. Tak lama setelah itu
datanglah Tb dan seorang perempuan, yang kabarnya perempuan itu akan ikut
mendaki bersama kami. Dari 8 diantara laki-laki akhirnya bertambah 1 orang
lagi, ia paling cantik diantara kami. Lalu kami berkenalan, Gadis namanya.
Semunya sudah siap! Jadwal Pesawat yang sesungguhnya pukul 9 pagi, namun kami
putuskan berangkat dari Serang lebih awal menuju Bandara Soekarno Hatta, supaya
lebih santai diperjalanan. Sebelum berjalan tak lupa kami berdoa dan
mengabadikan moment. Kami bejalan kurang lebih 30 menit dari Kedai, bertujuh
menuju Patung, Gadis menyusul dari kosannya yang tak jauh dari Patung, Fajar
pun ikut menyusul langsung ke Bandara, yang kebetulan rumahnya di Tangerang, tak jauh dari Bandara.
Pukul
09.15 WIB, kami sudah masuk Bandara dan terbang munju Lombok. Sampailah pukul
11.11. WITA. Disetiap perjalanan kami tak luput dari kamera, bahkan tak pernah
lupa. Keluarlah kami bersembilan dari Bandar Internasinoal Lombok, sambil
memikul Kerilnya masing-masing. Mobil Bakterbuka sudah terparkir menunggu kami,
yang dipesan Doni sebelum berangkat. Sejujurnya ada satu hal yang tersimpan di
dalam Kerilku atau tepatnya kusembunyikan dari teman-temanku. Nanti kubuka ketika
di Puncaknya Rinjani, kupastikan akan selalu dingiat disepanjang perjalanan
hingga turun pulang.
Kami
bersembilan menaiki Bakterbuka. Ganasnya matahari yang meyulutkan semangat
kami, membuat canda dan tawa semakin pecah. Tak ada jalan yang macet dan lubang
di sana, aspal yang mulus dan licin serta bukit-bukit memberi salam kepada
kami. Betapa bahagianya aku dan kawan-kawanku ketika berada di sana. 6 jam
berlalu. Tibalah kami di pos Sembalun. Kami langsung mengurus administrasi
(izin pendakian), rupanya kami sudah terlanjur dibakar senja, pos sudah tutup.
Alhasil kami tak dapat bermalam di pos 1. Namun beruntunglah kami dapat Porter
yang baik, memberikan tumpangan bermalam di rumahnya. 1 malam kami di Sembalun.
Keesokan harinya 18 Mei 2016, pukul 08.09 WITA Aku, Bara, Doni, Tb, Alunk,
Fajar, Maman, Feby, dan Gadis perempuan paling cantik diantara kami, mulai
melangkah lebih dari biasanya, Dari 0 Meter di Atas Permukaan Laut (MDPL), akan
sampai pada 3726 MDPL.
Matahari,
setiap hari selalu membakar semangat kami. Keringat tercampur ke dalam baju
yang kami kenakan, seoalah menyirami tubuh kami, bagai tanaman yang disirami
petani dikala pagi, supaya segar kembali. Kami berjalan, aku diurutan kedua
setelah Bara. Disepanjang perjalanan tak ada yang dapat kupikirkan, selain
mengingatnya, seorang perempuan. Yaah! Seorang perempuan yang selalu kutulis ke
dalam bait-bait puisiku. Selain itu hamparan bukit-bukit yang terpampang luas
di mataku. Tak banyak batu-batu di perjalanan menuju pos satu, kecuali awan
yang membatu dan ilalang disepanjang jalanan.
Kami
melewati pos satu, beristirahatlah 15 menit. Lanjut melangkah ke pos 2. Lebih
lama kami di situ, mengisi perut yang sudah kerontang. Setelah mengisi perut,
kemudian tak lama hujan turun, membasahi tubuh kami. Untunglah hujan hanya
sebentar, perjalanan kami lanjutkan menuju pos 3. Ini Trek yang mengejutkan 7
Tanjakan Penyesalan. Jangan sekali-kali bertanya ketika berjalan di Trek ini “Ini tanjakan yang keberapa?” sebab itu
suatu hal yang menjengkelkan, siapapun yang ditanyakan maka ia akan menjawab: “Tuh sebentar lagi di atas” padahal
hanya menerka, “Itu sebentar lagi di atas
tanjakan ke 2, ke 3, ke 4, dan seterusnya” Hahaha...
menyebalkan bukan? Namun di
sela-sela yang menjengkelkan dan menyebalkan, Maman salah satu diantara kami
selalu bisa membuat suasan menajdi akrab
dengan canda dan tawa yang mengocok-ngocok perut kami, selama diperjalanan. 7
Tanjakan Penyesalan, sejujurnya akupun engap
ketika melangkahkan kaki di sini. Namun disuasana yang akrab, tak ada
sedikitpun rasa ingin menyerah. Pemandangan yang indah selalu membuat rasa
penasaran. Aku sangat menikmati perjalanan. Dipikiranku: “Ini belum apa-apa, sudah disuguhkan pemandangan yang sangat indah.
Apalagi bila sampai di atas sana, Waaah! Tak terbayang rasanya keindahannya.
semangat! Semangat!”.
Tiga
belas jam berlalu, Doni, Allunk dan Maman tiba lebih dulu di pos 3, Pelawangan
Sembalun untuk memasang Tenda di sana. Aku dan ke 5 temanku datang lebih
lambat. Di perjalanan aku berjalan selalu paling belakang, menemani Tb yang
kakinya sedikit bermasalah. Kadang
ditemani Febby atau Allunk atau Maman. Kami di belakang kadang beremat,
bertiga, kadang juga berdua, hanya aku dan Tb. Di sela perjalanan, di sebelah
senja, ketika matahari bercumbu pada awan, aku berdua pada Febby yang sebentar
lagi sampai di pos 3 tak menyia-nyiakan waktu sambil menunggu Tb di belakang.
Kami berdua mengeluarkan bungkus rokok yang tersimpan di dalam tas pinggang
masing-masing. Lalu merogoh korek di saku celana. Kemudian kepulan asap keluar
dari mulut kami lebih banyak dari biasanya,
suasana semakin dingin. Febby membuka pembicaraan lebih dulu, tentang
kedekatannya dengan seorang perempuan. Ditutup dengan kata “Jangan bilang siapa-siapa ya, cukup kita aja yang tahu tentang ini.”
Kataku “Siap!” Tb belum juga tiba,
kami sambung keretek lagi. Kukeluarkan Antologi Puisi “Musim Untuk Laida” karya
para penyair perempuan Banten dan “Tuhan
Begitu Dekat” karya Abdul Hadi WM. Kutawarkan ia membaca puisi, diambilah
“Musim Untuk Laida” dan aku“ membaca “Tuhan
Begitu Dekat” kami berdua berkomunikasi lewat puisi. Lulu kuingat sepasang
kekasih, kira-kira satu minggu yang lalu kehilangan percakapannya di sebuah
surat yang nyaris semua isinya berisi puisi. Kemudian kuingat pula secarik
kertas yang terbelenggu di dalam Kerilku,
yang belum sempat terkirim pada seorang Puan Kelana. Di sela ingatan
seorang Puan Kelana, tiba-tiba Tb datang dengan langkah 200 meter perjam dengan
langkah gontai, sambil meringis memagang lututnya. Tak jarang di perjalanan ia
sering jatuh atau bahkan menjatuhkan tubuhnya sendiri, menjatuhkan kesakitannya.
Pukul
21.07 kami berlima sampai di Pelawangan Sembalun Pos 3. Tiga tenda yang kami
bawa sudah terpasang. Sesampainya di Pelawangan Sembalun, kami bingung tak
mengenal yang mana tenda kami, sebab banyak terpasang tenda-tenda para Pendaki
yang lain. Akhirnya bertemu Doni, dan kami langsung menanyakan di mana air
minum. Sebab tak ada sisa air minum, semuanya habis ditenggak haus. Lalu ia pun
menawarkan mie instan yang sudah masak, yang sengaja dimasak buat kami, untuk
menunda lapar sebelum makan berat. Padahal disitu mereka bertiga sedang menanak
nasi untuk makan malam kita. Tak lama berselang, Allunk menawarkan kopi yang
masih berasap. Lalu aku mengeluarkan Keretek yang masih terbungkus rapih di
dalam Keril yang tersimpan di Keresek. Kutawarkan pula Allunk dan teman-temanku
yang lain, kecuali Fajar satu-satunya lelaki diantara kami yang tidak
merokok. Nasi sudah masak, ikan sarden,
sosis, dan sayur kangkung tersaji di atas tresbeg, kami bersembilan
mengelilingi tresbeg yang berisi makan malam. Semuanya lahap, tangan-tangan
bergentayangan, meraba-raba tresbeg berisi nasi dan sayuran serta sosis dan
kangkung. Hinggga tak ada sisa di atas tresbeg.
Kedua
Tenda yang dibangun sudah tak bersuara lagi. Istirahat waktunya sudah dimulai.
namun Aku, TB, Febby dan Gadis yang kebetulan bersama dalam satu tenda, belum
tidur. Kami berempat sengaja menimati indahnya malam itu di dalam Tenda yang
sengaja kami buka penutupnya. Supaya terlihat bintang-bintang yang mejulang di
atas kepala. Lalu aku mengeluarkan dua buah buku Antologi Puisi dan segelas
kapi. Lalu kami baca puisi bersama, bergantian. Malam itu serasa milik kami
berempat. Lantunan puisi yang kami bacakan bagai suara alam yang menyatu dengan
keringat yang membeku di dalam tubuh kami beremapat. Pukul 00.00 sudah tak ada
lagi suara manusia yang terdengar, hanya sisa-sisa lelah yang terbakar dalam
mimpi yang lelap.
Pukul
02.00, kami sudah mendengar lagi suara jejak-jejak kaki melangkah dengan mata
yang lelah dan tubuh terbungkus kain tebal. Kami bersembilan dibangunkan
jejak-jejak para Pendaki berjalan. Lampu kepala, air mineral, roti serta
perlengkapan lainnya sudah kami siapkan sebelum melangkah lebih tinggi dari
biasanya. Kami siap berjalan menujuju Puncak, 3.726 Meter di Atas Permukaan
Laut.
Mulailah
kami masuk dalam pintu perjalanan spiritual, dibekali semangat sajak dan puisi serta letupan semangat yang tinggi; untuk mendaki Puncak tertinggi. Tiba-tiba terdengar suara salah satu teman kami, Doni
membangunkan kami yang baru mengetuk pintu alam bawah sadar. (*)
Agustus, 2016


Komentar
Posting Komentar