Mengulas Masa Lalu untuk Masa Mendatang



Oleh Husaini Bayusegara

Saya pikir minimnya sumber daya manusia ditingkat pendidikan, dikarenakan terutama karena akses yang sulit dijangkau oleh para pemuda yang ingin sekolah. Sebab itulah yang saya perhatikan, menjadi penghambat terbesar bagi saudara-saudara saya di Pulau Tunda.

Saya pikir, saya adalah orang yang beruntung mempunyai seorang ibu yang selalu mendukung, memotivasi bahkan membangkitkan semangat saya, terutama saat menawarkan saya untuk melanjutkan kuliah ketika baru tamat SMA. Padahal waktu itu tak ada sedikitpun di hati saya ingin melanjutkan kuliah, sebab saya tahu betul keadaan ekonomi keluarga saya saat itu. Kurang lebih begini dialog saya dengan ibu saya ketika itu "mau kuliah gak?" kata ibu. "emang punya uang" kata saya. "daftar aja dulu,  gampang uang mah" kata ibu. Pada waktu itu saya berasumsi bahwa kuliah itu mahal dan mana mungkin orang tua saya sanggup untuk membiayai saya kuliah, “berapa sih penghasilan nelayan? Kadang buat makan sehari-hari aja hutang ke warung, Nelayan kan penghasilannya gak menentu”. 
Singkat cerita saat itu saya mendaftar disalah satu perguruan tinggi di Banten, UNTIRTA. Lalu diterima, dan saya tahu betul, ketika saya butuh uang untuk biaya awal kuliah, orang tua saya mencari uang ke sana ke mari, meminjam uang ke sana ke sini, untuk biaya awal kuliah saya. Di sisi lain keraguan mulai mucul di pikiran saya. Apakah orang tua saya bisa membayarkan biaya kuliah saya untuk semester depan dan seterusnya? semester 2 masih pinjem ke sana ke sini. Namun hutang semester 1 kata ibu sudah dibayar dan lunas, dicicil. Di akhir semester akhir semester 1, saya mendapat kabar dari seorang teman, di Fakultas katanya ada pendaftaran beasiswa. Ada 2 golangan waktu itu BBM (untuk mahasiswa kurang mampu) dan PPA (untuk mahasiswa berprestasi). Saya tidak ambil pusing dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Saya waktu itu tahu betul kondisi akademik saya dengan IPK pas-pas-an langsung mengurus administrasi pendaftaran beasiswa BBM yang dibantu surat pendukung Surat Keterangan Kurang Mampu dari Pulau Tunda. Sejak itu, semester 3 sampai 7 saya menerima beasiswa kurang mampu tersebut. 

Kemudian dari cerita singkat itu saya selalu bagikan kepada saudara dan adik-adik saya di Pulau Tunda atau di mana pun, terutama mereka yang masih duduk di bangku SMP atau SMA. Saya bilang kepada mereka “Saya ini anak dari seorang nelayan; bapak kamu nelayan?! Bapak saya juga nelayan, bukan? Saya bisa lulus kuliah, dapat biaya dari mana? Bapak kita sama-sama kerjanya di laut yang sama, bukan? Jadi jangan takut untuk melanjutkan sekolah atau kuliah. Jangan takut orang tua kita gak sanggup buat bayarin kita sekolah atau kuliah. Nih, buktinya saya udah lulus kuliah, bukan? Biaya dari mana? Ya dari laut, mincing (nelayan)”. Berangkat dari sini saya ingin selalu menjadi contoh buat saudara dan adik-adik saya di Pulau Tunda dan memotivasi mereka bahwa ‘orang kecil’ juga mampu mengenyam pendidikan untuk memperbaiki sisi kehidupan di masa depan. Selain itu, saya juga sampaikan bahwa banyaknya lowongan-lowongan beasiswa dari pemerintah atau perusahaan-perusahaan yang bisa di dapat, seperti yang saya dapatkan. Yang terpenting adalah mau untuk berusaha. 
Barangkali penggalan kisah di atas dapat saya bagikan ke saudara-saudara saya di pelosok negeri ini. Bila Tuhan menghendaki.

November, 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DITELANJANGI OLEH WAKTU

Biodata Singkat

PEREMPUAN DAN HUJAN