SLAMET
Kau tahu?
Sejak dari Lereng Slamet
hingga Puncaknya, tidak sewaktupun aku lupa
untuk mengingatmu
hingga Puncaknya, tidak sewaktupun aku lupa
untuk mengingatmu
Teh, Slamet mengajarkanku rasa sakit
untuk menyembunyikan air mata
seperti melangkah keluar melewati batas wajar
dari sakit yang tidak seharusnya
Sakitnya bagai penggugur dari sisa-sisa dosa
untuk menyembunyikan air mata
seperti melangkah keluar melewati batas wajar
dari sakit yang tidak seharusnya
Sakitnya bagai penggugur dari sisa-sisa dosa
Rinai hujan mendatangkan rindu,
dinginnya Slamet memeluk rasa sakitku
Sore itu kabut turun tidak begitu pekat
Beruntungnya aku masih bisa
membayangkanmu
Kau tahu mengapa?
dinginnya Slamet memeluk rasa sakitku
Sore itu kabut turun tidak begitu pekat
Beruntungnya aku masih bisa
membayangkanmu
Kau tahu mengapa?
Tidak ada yang lebih hangat
dari sikap dan parackapan kita
di malam-malam yang dingin
tanpa kehadiranmu
hingga kubuat unggun api
dari sikap dan parackapan kita
di malam-malam yang dingin
tanpa kehadiranmu
hingga kubuat unggun api
untuk menguatkan rasa rindu
supaya hangat dipelukan tidurku
supaya hangat dipelukan tidurku
Teh, di Slamet kau menyelamatkanku...
H.B.,
Gunung Slamet, 2019
Gunung Slamet, 2019
Komentar
Posting Komentar